Kepompong dari Ledokombo (1)

Friday, 26 April 2013 06:26
Rate this item
(0 votes)

Semua bermula dari hal kecil, hanya ingin membuat anaknya kerasan tinggal di Ledokombo, sebuah kecamatan yang terletak di pinggir Kabupaten Jember. Siapa sangka, kini menjadi sebuah tujuan hidup…………….

Farhah Ciciek, dikenal sebagai seorang perempuan yang aktif dalam dunia pendidikan. Saya pertama kali berkenalan dengan Ciciek, ketika dia datang ke Jember pada tahun 2007 membawa sebuah penelitian tentang pencucian otak berdalih agama. Dalam penelitiannya itu, Ciciek menemukan fakta bahwa banyak generasi muda dicekoki paham untuk menjadi seorang mujahid dengan cara melakukan bom bunuh diri.

Pertama kali mengenalnya, yang ada di benak saya, Ciciek adalah seorang peneliti dan aktivis pendidikan. Khususnya, pendidikan anak-anak dan remaja. Dia juga sangat concern dalam pengenalan budaya baik di dalam negeri maupun dari luar negeri.

Beberapa waktu kemudian, sekitar tahun 2009, saya kembali bertemu Ciciek. Kali ini, saya bertemu dia di SD Al Furqan Jember. Dia, mengajak dua orang mahasiswa Fakultas Pendidikan dari Australia. Mereka menginap di rumah Ciciek yang asri, dengan halaman belakang penuh pohon bambu, di Ledokombo. Saat itulah, saya mulai mendengar bahwa Ciciek yang lama tinggal di Jakarta, akhirnya memilih kembali ke kampung halaman suaminya, Supo Raharjo.

Sejak saat itu, nama Ciciek dan Supo menjadi bahan pembicaraan sendiri di Jember. Semua itu berkat konsistensi mereka untuk membuat kelompok bermain dan belajar Tanoker. Sebuah kata dalam bahasa Madura, yang berarti kepompong. Sebuah filosofi yang sangat dalam. Ciciek ingin anak-anak di Ledokombo menjadi sebuah kepompong yang akan berubah menjadi kupu-kupu cantik nantinya.

Sebuah harapan yang memacu semangat siapa saja yang tahu sepak terjang Ciciek dan Supo. Saya sendiri, awalnya hanya tahu dari teman-teman. Berbagai tulisan sudah banyak menampilkan sepak terjang Ciciek dan Supo dengan Tanokernya. Akhirnya, setelah hanya mendengar dan membaca tulisan teman-teman, saya memiliki kesempatan untuk datang sendiri ke Tanoker.

Di suatu siang yang terik, ditemani secangkir teh hangat yang manis, dan pisang goreng, saya mendengar sendiri Ciciek bercerita. Pembawaannya yang kalem namun visioner. Ciciek membawa Tanoker menjadi salah satu tujuan anak-anak Ledokombo. Setiap hari, selalu ada anak-anak yang bermain di sana. Ah sungguh menyenangkan. Masa anak-anak memang masanya bermain dan bergembira. Bukan hanya urusan buku, les, dan UAN. Anak juga butuh mengembangkan ide-ide kreatifnya.

Di sinilah, Ciciek melihat peluang untuk mengembalikan citra permainan tradisional yang menguap ditelan jaman modern. Lagi-lagi, semua bermula dari ketidaksengajaan. Juli 2009, dua anaknya ikut pindah ke Ledokombo. Dari Jakarta yang metro banget ke Ledokombo yang ndeso banget. Ada kekhawatiran di hati Ciciek, anak-anaknya tidak kerasan. “Mereka, yang anak-anak mall, dengan playstation, akan kehilangan ke-metro-annya. Dan ini bisa repot, kalau mereka ingin kembali ke Jakarta,” katanya.

Ciciek memutar otak, dan dia mencoba menawarkan berbagai permainan tradisional yang dulu pernah dimainkan suaminya. “Saya bilang, coba tanya ayah, dulu, kalau di sini, mainnya apa saja,” imbuhnya. Dari percakapan ini, akhirnya kedua anaknya ingin menjajal permainan egrang.

Untung saja, di halaman belakang rumah tersedia banyak pohon bambu. Sehingga, tak perlu membeli, hanya tinggal menebang, maka jadilah tiga pasang egrang sederhana yang siap dimainkan. “Ooh, awalnya mereka jatuh bangun. Tapi, lama-lama ketika mereka sudah seimbang, akhirnya mereka ketagihan bermain egrang,” katanya.

Inilah cikal-bakal Tanoker, sang kepompong dari Ledokombo. Permainan egrang yang dimainkan kedua anak Ciciek ini, tampaknya membuat anak-anak di sekitar Ledokombo tertarik. Mereka yang asli Ledokombo, justru sudah lama tidak memainkan egrang. Malah asyik dengan permainan modern macam playstation dan game-game computer. Jangan salah, kendati di kawasan pinggiran, playstation telah masuk desa sejak beberapa waktu lalu dan berhasil menjajah anak-anak untuk terus kecanduan memainkannya.

Bahkan, playstation menjadi barang wajib sebagai hadiah ulang tahun. Ada pula yang bersedia di khitan karena berharap uang hadiah dari orang-orang yang diundang selamatan, bisa untuk membeli playstation.

Kedua anak Ciciek seolah membangunkan kembali minat anak-anak terhadap permainan tradisional. Apalagi, rata-rata permainan tradisional dimainkan di luar rumah dan dilakukan dengan banyak anak. Sehingga, kegembiraan saat bermain kembali dirasakan anak-anak Ledokombo. Sehingga mereka kerasan bermain di rumah Ciciek.

“Lalu, timbul ide untuk memacu semangat mereka. Kami bikin lomba, ya kecil-kecilan, hadiahnya hanya Rp 2 ribu – Rp 3 ribu bagi yang menang. Eh, nggak tahunya mereka makin kayak semut, datang ke sini, ” katanya. Semangat anak-anak untuk kembali merasakan asyiknya bermain berkelompok semakin menjadi. Yang awalnya, hanya beberapa hari sekali datang ke sana, akhirnya menjadi setiap hari.

Saat itulah, Tanoker mulai tumbuh. Dan kini, terus tumbuh dengan pengelolaan yang semakin baik. Ciciek tidak hanya mengenalkan Egrang, tapi juga mengembalikan keceriaan anak-anak. Mengusung semangat bermain, belajar, bersahabat, dan bergembira, Tanoker semakin menunjukkan eksistensinya. Mereka tidak hanya bermain di Ledokombo, namun sudah mulai merambah dunia luar.

Salah satu prestasi membanggakan yang pernah anak-anak Tanoker lakukan adalah ketika mereka terpilih sebagai finalis Indonesia Mencari Bakat 2. Mengandalkan kemampuan bermain egrang, anak-anak Tanoker berhasil menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya melalui bangku sekolah. Apapun aktivitas kita, sekecil apapun itu, selama kita menekuninya dengan serius dan focus, maka keberhasilan dan prestasi akan kita raih.

“Mereka semakin percaya diri. Itu yang membanggakan. Saya memang ingin anak-anak Ledokombo memiliki rasa percaya diri yang sama seperti anak-anak metropolitan,” katanya. Sebuah motivasi yang bagus, mengingat banyak anak desa atau kecamatan pedalaman, memilih meniru gaya anak-anak metropolitan. Yang akhirnya, membuat mereka kehilangan identitas.

Ya, Tanoker mengajarkan anak-anak Ciciek dan anak-anak Ledokombo, untuk percaya dengan diri dan kemampuan mereka. Keberhasilan seseorang membutuhkan proses dan usaha yang keras. “Saya lihat sendiri, cara mereka dan kenekatan mereka untuk menembus IMB 2, kami, dan orangtua, hanya bisa mendorong dan mengarahkan. Dan kami akhirnya menyadari, bahwa pemikiran orangtua tak selamanya benar. Ketika anak-anak memiliki niat dan semangat yang tinggi, orangtua harus mendukung, bukan melemahkan apalagi menentang,” katanya.

Tak hanya sukses menembus seleksi IMB 2, Tanoker juga mengajarkan anak-anak untuk mencintai keberagaman. Berulang kali, Ciciek mengajak orang-orang asing untuk datang ke Ledokombo. Lalu, Tanoker menggelar aneka lomba, nyanyi bersama, belajar bersama, bergembira bersama. Intinya kebersamaan dalam perbedaan.

“Saya ingin, sejak masih kecil, anak menghargai perbedaan. Kita boleh saja berbeda, tapi kita sama-sama manusia. Harus saling menghargai,” katanya. Bukan tanpa alasan Ciciek melakukan itu. Pengalaman menyenangkan ketika dia tinggal di Ambon, saat masih kecil, ternyata harus musnah ketika kerusuhan Ambon bergolak.

Semua itu sangat menyakitkan hati Ciciek, kendati dia sudah tak tinggal di sana lagi. Kerusuhan Ambon, bagi dia tak hanya sekadar perseteruan dua kubu. Tapi, juga pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Ketika sesama manusia diharapkan saling menghargai, dan menghormati perbedaan, di sana justru tersimpan prasangka yang berujung pada sikap anarkhis.

Kerusuhan Ambon, menjadi pelajaran sendiri bagi Ciciek. Dia tidak ingin kerusuhan yang melukai banyak orang itu, terulang. Dan semua harus bermula dari hal yang kecil. Seperti mengajarkan anak-anak menghargai perbedaan dan menghormati keberagaman. Ah, Tanoker memang sebuah kempompong, mudah-mudahan setelah “bertapa” lama, menjelma menjadi kupu-kupu cantik membawa perdamaian di hati ibu bumi yang sudah renta ini.
 
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/07/kepompong-dari-ledokombo/

Tanoker

...mempertemukan manusia - manusia dari berbagai kebudayaan... untuk bersatu, berbagi dan saling menguatkan dalam suatu ruang hidup bernama Ledokombo

Read more