Pemanfaatan Permainan Tradisional Egrang

Friday, 26 April 2013 06:19
Rate this item
(4 votes)

Judul lengkap: Pemanfaatan Permainan Tradisional Egrang oleh Komunitas Belajar dan Bermain Tanoker sebagai Media Dakwah dalam Melakukan Pembentukan Karakter Anak-Anak di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember.

Oleh: : Sisillia Velayati, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Sosiologi, Universitas Brawijaya Malang.

 

Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis di Kecamatan Ledokombo. Kecamatan Ledokombo merupakan salah satu wilayah pelosok yang ada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Meskipun berada disaerah yang cukup terpencil, dimulai sejak tahun 2009, wilayah ini memiliki kelompok belajar dan bermain yang kegiatan utamanya terfokus pada pengembangan potensi anak-anak melalui pendekatan budaya. Kelompok belajar dan bermain tersebut bernama Tanoker. Tulisan ini akan mencoba menggambarkan bagaimana komunitas belajar dan bermain Tanoker memberikan transformasi nilai-nilai kultural kepada anak-anak melalui permainan tradisional egrang sebagai salah satu proses pengembangan potensi anak-anak dan pembentukan karakter masyarakat, terutama anak-anak di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Sebelum menuju pembahasan inti mengenai transformasi nilai-nilai kultural yang diberikan oleh Tanoker kepada anak-anak melalui permainan tradisional egrang, penulis akan menggambarkan kondisi pendampingan keluarga terhadap anak-anak di Kecamatan Ledokombo dan dinamisasi terbentuknya Tanoker di Kecamatan Ledokombo.

Penduduk Kecamatan Ledokombo tidak sedikit yang mencari nafkah keluar Kecamatan Ledokombo, baik di dalam negeri, seperti di Bali dan Batam maupun di luar negeri, seperti di Malaysia dan Arab Saudi. Fenomena ini menggambarkan bahwa Kecamatan Ledokombo merupakan salah satu daerah pengiriman (sending area) tenaga kerja. Fenomena ini menjadikan Kecamatan Ledokombo dihuni oleh keluarga-keluarga inti yang tidak utuh, sehingga membuat anak-anak ditinggalkan oleh orang tuanya dan terpaksa harus diasuh oleh nenek, kakek, bibi, atau bahkan diasuh oleh tetangganya.

Menoleh ke belakang sejenak, disamping perginya sejumlah penduduk untuk mencari nafkah ke luar wilayah Kecamatan Ledokombo terjadi beberapa hal yang menakjubkan. Anak-anak yang tinggal dengan keluarga inti yang utuhpun menuai berbagai masalah, Budaya kekerasan dalam mendidik anak masih melekat di daerah ini. Seorang gadis cilik yang biasa dipanggil Taris bercerita “ebok’en engkok ruah nokolan, kadeng engkok eh gumbi’ (ibu saya itu mukulan mbak kadang saya sampai di tarik rambutnya).

Melihat kondisi tersebut membuat Supo Raharjo seorang pria asli Kecamatan Ledokombo yang beberapa tahun tinggal di Jakarta dan tahun 2009 kembali ke Kecamatan Ledokombo berusaha mencari celah dengan melihat apa yang bisa diperbuat untuk masyarakat Kecamatan Ledokombo dan bagaimana cara membuat betah kedua anaknya untuk tinggal di desa, sehingga lambat laun mempunyai inisiatif untuk berusaha menciptakan suatu wilayah yang ramah terhadap anak, khususnya untuk Kecamatan Ledokombo dan untuk Indonesia pada umumnya. Inisiatif tersebut diwujudkan oleh Supo Raharjo bersama dengan istrinya, yaitu Farha Ciciek melalui pendirian komunitas belajar dan bermain untuk anak-anak pada tanggal 10 Desember 2009. Awal terbentuknya komunitas ini bukan merupakan sesuatu yang mudah karena membutuhkan pendekatan kepada masyarakat. Pasangan Supo Raharjo dan Farha Ciciek memulai pendekatan kepada masyarakat dengan mengadakan lomba-lomba kecil untuk anak-anak, mulai lomba balap kelereng, lomba makan kerupuk, gobak sodor, pertandingan bola, dan bakiak beregu. Lomba ini tidak berhadiah besar, tetapi dengan hadiah-hadiah kecil seperti uang Rp 5000 untuk juara 1, Rp 3000 untuk juara 2 dan Rp 2000 untuk juara 3. Dengan lomba-lomba kecil itulah kemudian setiap harinya berdatangan anak-anak untuk bermain di kediaman Supo Raharjo.

Komunitas belajar dan bermain yang didirikan oleh pasangan Supo Raharjo dan Farha Ciciek bernama Tanoker. Nama Tanoker untuk komunitas belajar dan bermain tersebut bukan hanya Supo Raharjo dan Farha Ciciek yang yang memberikan, tetapi nama ini diberikan berdasarkan proses bersama anak-anak. Anak-anak yang berkumpul di kediaman Supo Raharjo untuk membicarakan nama apa yang pantas dan bernilai untuk komunitas mereka, sehingga akhirnya tersematlah nama Tanoker. Dari sebuah nama saja mengandung makna yang yang selalu tertanam dalam benak mereka. Mereka bercita-cita untuk menjadi seperti kupu-kupu berwarna-warni dan menawan, sehingga disukai oleh banyak orang. Hal itu yang sampai saat ini menjadi mimpi mereka, seperti yang diungkapkan oleh seorang anak kelas dua sekolah menengah pertama “Awalnya pada saat itu ada anak yang nyanyi lagu kepompong terus ada yang punya pendapat namanya kepompong saja. Dibantu sama Bu Ciciek kami mulai memikirkan kalau kepompong yang selama ini dilihat sebagai sesuatu yang jelek dan menjijikkan, tetapi setelah metamorfosis bisa jadi kupu-kupu yang bisa terbang kemana-mana dan warnanya indah sampai bisa disukai banyak orang. Kami ingin belajar bersama agar bisa jadi lebih baik. Meskipun kami anak-anak desa, kreatifitas kami tidak ingin kalah dengan anak kota, biar nanti kami bisa dikenal banyak orang dan bisa tampil dimana-mana. Dari diskusi itu saya dan teman-teman setuju kalau namanya kepompong, tetapi karena kami biasa pakai Bahasa Madura jadi kami memberikan nama Tanoker. Tanoker itu Bahasa Madura yang artinya kepompong .”

Kegiatan utama Tanoker difokuskan untuk pengembangan potensi anak-anak usia wajib belajar, yaitu setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pengembangan potensi anak-anak dilakukan dengan menggunakan pendekatan budaya. Salah satu pendekatan budaya yang digunakan oleh Tanoker berupa permainan tradisional egrang. Tanoker mengenalkan permainan tradisional egrang sebagai salah satu permainan tradisional Indonesia kepada anak-anak. Pengenalan permainan tradisional egrang sebagai permainan tradisional Indonesia kepada anak-anak ditujukan agar Tanoker dan masyarakat Kecamatan Ledokombo, terutama anak-anak dapat bersama-sama melestarikan kembali permainan tradisional Indonesia ditengah maraknya pertumbuhan permainan modern dengan berbagai bentuk dan pesonanya, tetapi acap kali bisa membuat anak-anak menjadi individual. Egrang yang sering disebut thonjek dalam Bahasa Madura merupakan media dakwah untuk mengembangkan potensi anak-anak dan alat untuk membentuk karakter masyarakat Kecamatan Ledokombo, terutama anak-anak.

Pengembangan potensi anak-anak dilakukan dengan melakukan proses bersama-sama antara pembimbing di Tanoker dengan anak-anak untuk mengkreasikan permainan tradisional egrang yang dipadukan dengan berbagai bentuk kesenian, seperti tarian dan nyanyian yang dilengkapi dengan alat musik tradisional. Perpaduan ini merupakan suatu bentuk kemasan entertainment yang menarik. Perpaduan permainan tradisional dengan berbagai bentuk kesenian merupakan upaya awal pengembangan potensi anak-anak sekaligus upaya pembentukan karakter anak. Pembentukan karakter ini dilakukan dengan menyelibkan nilai-nilai kultural melalui serangkaian permainan tradisional yang dipadukan dengan kesenian. Fenomena tersebut kerap kali dilakukan oleh pembimbing Tanoker bersama-sama dengan anak-anak melalui lagu dan gerakan saat bermain egrang. Lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak pada saat bermain egrang adalah lagu belajar sama-sama. Lirik lagu tersebut adalah sebagai berikut:

“ Belajar sama-sama,
Bermain sama-sama,
Kerjasama-sama.
Berkarya sama-sama,
Bertanya sama-sama,
Kerjasama-sama.
Semua orang itu guru,
Alam raya sekolahku,
Sejahterahlah bangsaku.”

Lagu belajar sama-sama mengajarkan kepada anak-anak untuk percaya diri dan yakin dalam mewujudkan cita-cita. Cara mewujudkan cita-cita yang dimaksud dalam lagu ini adalah dengan belajar, bermain, berkarya, dan berdiskusi secara bersama-sama agar dapat meringankan beban dan saling berbagi ilmu dan pengalaman antara satu dengan yang lain tanpa memandang perbedaan. Dalam lagu tersebut juga mengandung makna bahwa alam merupakan sumber ilmu pengetahuan. Dengan memanfaatkan alam secara bijaksana untuk tempat belajar, maka nantinya Bangsa Indonesia akan sejahtera.


Sumber: Dokumentasi Sisillia Velayati


Hasil Kolaborasi Permainan Tradisional Egrang dengan Beberapa Kesenian

Selain strategi tersebut, Tanoker juga melaksanakan Festifal Egrang Unik yang sudah dua tahun dapat dilaksanakan. Festival Egrang Unik ini dilakukan secara berkelompok dengan tujuan agar anak-anak dapat melatih keseimbangan, ketangkasan, kerjasama, dan kreativitas. Keseimbangan dan ketangkasan dapat terlihat ketika secara individu, anak-anak berusaha menunjukkan kebolehan dengan berdiri dan berjalan diatas kedua bilah bambu tersebut. Karena gerakan tersebut tidak mudah, maka dari situlah anak-anak berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Apabila setiap individu sudah dapat berdiri dan melakukan gerakan-gerakan diatas egrang, nantinya secara berkelompok anak-anak dapat menciptakan gerakan, tarian agar lebih terlihat menarik. Keseimbangan yang perlu dijaga untuk dapat berdiri, berjalan, dan menari diatas egrang merupakan sesuatu yang tidak mudah dan penuh dengan pengorbanan. Usaha untuk menjaga keseimbangan ini merupakan bentuk pembelajaran terhadap anak-anak bahwa untuk mencapai sesuatu yang menjadi cita-cita setiap orang maupun sekelompok orang tidak dapat terwujud tanpa adanya usaha.

Hal yang menjadi esensi terpenting dari kegiatan ini adalah perjuangan anak-anak dibalik panggung festival. Tanoker ingin mengajak masyarakat untuk sadar komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi antar anak dalam setiap kelompok dan komunikasi anak dengan lingkungan sekitarnya. Komunikasi antar anak dapat terlihat ketika anak-anak yang tergabung dalam suatu kelompok dituntut untuk dapat menjalin kerjasama agar kompak di atas panggung. Sedangkan penyadaran komunikasi di lingkungan sekitar dalam kegiatan ini dapat terlihat ketika seorang anak akan mengikuti festival, maka mereka harus berlatih dan membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar, terutama keluarga dan pihak sekolah. Dibalik panggung kegiatan ini terlihat keluarga dan pihak sekolah mendukung anak-anaknya mengikuti festival dengan cara membantu anak untuk belajar membuat gerakan diatas egrang dan membuat kostum, serta egrang dari bambu. Fenomena tersebut telah menunjukkan bahwa dengan berjalannya suatu proses, maka dapat tercipta suatu bentuk kesadaran kolektif.

Melihat dimilikinya potensi masyarakat Kecamatan Ledokombo, terutama anak-anak yang dibimbing oleh Tanoker membuat Tanoker melakukan publikasi mengenai potensi anak-anak bimbingan Tanoker kepada masyarakat, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat luar negeri. Pengenalan ini dilakukan oleh Tanoker melalui berbagai media, misalnya melalui media elektronik dan media cetak, seperti website, facebook, dan koran. Seiring dengan dikenalkannya potensi anak-anak bimbingan Tanoker, pembimbing di Tanoker mengajarkan lagu nothok labeng kepada anak-anak sebagai persiapan menyambut tamu yang datang ke Tanoker. Lagu nothok labeng ini merupakan perpaduan lagu dalam Bahasa Madura, Indonesia, Inggris, Mandarin, Arab, dan Jepang. Lirik lagu tersebut adalah:

“ Bede oreng notok Labeng,
Jebing ben kacong bukaen labeng.
Ada Orang Ketuk pintu,
Anak yg pintar bukakan pintu.
Someone Is knocking at the door,
Oh darling why don’t you answer.
Dukol dukol dikol bab,
Iftah ya habibi Iftah ya habibi.
Yu ren zi au men,
Oh wo tek pau pei kaimenla.
Ono uwong notok lawang,
Tole cah ayu bukakno lawang.”

Ketika mengajarkan lagu nothok labeng kepada anak-anak, pembimbing di Tanoker menjelaskan makna dari lagu tersebut. Dari Lirik lagu nothok labeng, pembimbing di Tanoker menjelaskan kepada anak-anak bahwa anak-anak harus dapat menerima semua tamu yang datang ke Kecamatan Ledokombo dengan ramah dan sopan agar dapat berbagi ilmu dengan lancar. Pada saat proses belajar lagu nothok labeng juga dijelaskan bahwa semua manusia adalah sama dihadapan Allah, oleh karena itu tidak ada yang boleh membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Lagu ini merupakan simbol keterbukaan masyarakat Kecamatan Ledokombo terhadap masyarakat yang berasal dari Kecamatan Ledokombo.

Dari pemaparan potensi yang dimiliki oleh anak-anak bimbingan Tanoker, maka berbagai elemen masyarakat mulai berkunjung ke Tanoker. Kehadiran berbagai elemen masyarakat yang berkunjung ke Tanoker juga tidak lepas dari adanya kerjasama yang sebelumnya dijalin oleh pemrakarsa Tanoker. Berbagai elemen masyarakat yang berkunjung ke Tanoker telah memberikan gambaran atau pengetahuan kepada masyarakat Ledokombo, terutama anak-anak mengenai kehidupan sosial dan budaya diluar desa mereka. Selain itu, Tanoker Ledokombo bersama-sama dengan masyarakat Ledokombo, terutama anak-anak berusaha memperkenalkan kebudayaan tradisional Indonesia kepada tamu-tamu dari luar Kecamatan Ledokombo. Kebudayaan tradisional Indonesia yang dikenalkan oleh Tanoker bersama dengan masyarakat Kecamatan Ledokombo, terutama anak-anak, adalah permainan tradisional Indonesia, alat musik tradisional Indonesia, lagu daerah, dan tidak jarang mereka mengenalkan kondisi alam dan budaya yang ada di Kecamatan Ledokombo.

Sumber: Dokumentasi Kelompok dan Bermain Tanoker


Anak-anak Ledokombo berbagi pengetahuan kebudayaan Indonesia kepada tamu dari Jerman dan Jakarta

Sumber: Dokumentasi Sisillia Velayati   

Pemaparan diatas merupakan suatu refleksi dari fenomena yang terjadi pada salah satu wilayah di Indoesia, dimana didalamnya terdapat suatu komunitas belajar dan bermain yang memiliki inisiatif untuk mengembangkan potensi anak-anak dan membangun karakter anak-anak daerah pelosok melalui pendekatan budaya dengan menanamkan rasa nasionalisme sejak dini kepada anak-anak.

Tanoker

...mempertemukan manusia - manusia dari berbagai kebudayaan... untuk bersatu, berbagi dan saling menguatkan dalam suatu ruang hidup bernama Ledokombo

Read more