Kampung 'Wisata Belajar' dari Ledokombo

Tuesday, 26 August 2014 09:15
Rate this item
(1 Vote)

SURYA Online, JEMBER. Mendapat ilmu dan mendapat uang. Itulah manfaat ganda yang didapatkan oleh Ummul Karimah (35), seorang ibu muda asal Desa Sumbersalak Kecamatan Ledokombo mengawali ceritanya tentang 'Kampung Wisata Belajar' di Ledokombo kepada Surya, Jumat (22/8/2014).

Ummul, dan tiga orang perempuan lainnya ditemui Surya di stan pameran 'Tanoker' yang berada di area Alun-Alun Jember. Kelompok belajar 'Tanoker' asal Kecamatan Ledokombo mengikuti pameran dalam rangkai Jember Fashion Carnaval (JFC)-13 sejak Rabu (20/8/2014) - Minggu (24/8/2014) mendatang.

Kala Surya berkunjung ke stand tersebut, Jumat (22/8) siang, empat orang perempuan menjaga tempat tersebut. Aneka kerajinan dipamerkan seperti kerajinan berbahan tekstile (dompet, tempat pensil, dompet uang koin, tas laptop, dan tas seminar), kerajinan berbahan kayu (peralatan dapur dari batok kelapa dan miniatur orang bermain egrang dari kayu), juga aneka bros dan kalung dari manik-manik dan bebatuan.

Tidak lupa, di stand itu dipamerkan beberapa pasang egrang dari bambu. Kelompok belajar

'Tanoker' memang identik dengan egrang. Bahkan Sabtu (23/8) siang, akan digelar Festival Egrang V di Ledokombo. Festival Egrang akan diikuti oleh anak-anak. Permainan ini memang permainan anak tradisional yang dibangkitkan oleh kelompok tersebut.

Namun tidak hanya para anak yang belajar di 'Tanoker'. Ibu dari anak-anak 'Tanoker' akhirnya juga terlibat dalam komunitas belajar itu. Tidak hanya ibu dari anak-anak. 'Tanoker' namun juga teman-teman dari ibu anak-anak 'Tanoker'.

Seperti yang terjadi pada Ummu. Anaknya karena masih balita, maka belum ikut dalam komunitas 'Tanoker'. "Saya tahu dari teman-teman, dan diajak teman-teman saya yang sudah gabung. Ternyata senang, dapat ilmu, dapat uang lagi," ujarnya.

Yang dimaksud mendapat ilmu, karena Ummu memang belajar di tempat itu. Belajar dalam hal ini tentu bukan seperti belajar di sekolah atau kejar paket.

Ia mendapat ilmu ketrampilan membuat aneka kerajinan, mendapat ilmu tentang pendidikan anak, mendapat ilmu tentang kebersamaan, tentang keragaman, juga tentang perdamaian dan menghormati antar sesama manusia.

Dari ketrampilan membuat kerajinan, ia juga mendapat uang. Ia membuat kerajinan berupa dompet dan tas. Setiap kali ada pemesanan tas dan dompet, artinya ia akan mendapatkan uang.

"Jadi bisa nambah penghasilan suami. Tetapi yang paling penting, bisa kumpul-kumpul, tambah teman, tambah pengalaman juga," ujar perempuan yang tergabung di Tanoker dua tahun terakhir ini.

Senada dengan Ummu, Nurul Maisaroh warga Desa/Kecamatan Ledokombo mengenal Tanoker sejak baru diresmikan lima tahun lalu. Ini karena anaknya yang kala itu masih duduk di bangku kelas 3 SD tergabung di dalamnya.

"Kini anak saya sudah SMP kelas 2 dan juga masih bergabung. Kami para ibu kan juga bergabung dan saling berbagi ilmu," ujar ibu rumah tangga tersebut.

Ia banyak terlibat dalam kegiatan 'Tanoker'. Termasuk ketika akhirnya dua tahun lalu, kelompok itu menggagas pemberdayaan untuk para ibu. Pemberdayaan ekonomi salah satunya melalui pembuatan kerajinan tangan tersebut.

Nurul juga aktif dalam membuat aneka dompet dan tas. Bahkan ia pernah mengerjakan pesanan 750 dompet dan mendapatkan pemasukan cukup banyak. "Kalau tidak salah lebih dari Rp 2 juta. Itu tahun kemarin sih, jadi agak lupa. Kami hanya mengerjakan, karena bahan dari Tanoker.

Jadi kami tidak hanya diam saja di rumah, tetapi kini ada kegiatan dan dapat uang," terangnya.

Saat ini ada 30 orang ibu yang mengerjakan tas dan dompet itu. Meskipun baru berjalan dua tahun, pesanan terus mengalir. Ribuan dompet sudah mereka produksi dalam dua tahun terakhir.

Pesanan datang dari sejumlah instansi baik perusahaan maupun lembaga pendidikan. Bahkan pihak Lois Jeans Indonesia juga memesan kerajinan tangan dari ibu-ibu 'Tanoker'. Perusahaan itu memesan dompet yang berbahan jeans yang bahannya mereka sediakan.

'Tahun lalu pihak Lois memesan 500 dompet. Dan itu dijual di gerai mereka di Matahari dan Ramayana. Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri buat kami dan para ibu di Ledokombo," ujar Farha Ciciek, aktivis yang juga pendamping kelompok 'Tanoker'.

Dari lembaga lain, seperti lembaga pendidikan, ada yang memesan sampai ribuan tas dan dompet. Bahkan dalam pameran yang digelar di Alun-ALun saja, 'Tanoker' mendapatkan pesanan 50 tas seminar dari sebuah instansi di Bandung.

Menurut Ciciek, sejauh ini selain diproduksi untuk dijual secara langsung, produksi juga masih berdasarkan pesanan. Hanya saja, kerajinan tersebut merupakan ruh dari pembelajaran dan pemberdayaan di 'Tanoker'.

Ciciek dan suaminya, Suporahardjo berkeingingan menjadikan Ledokombo melalui 'Tanoker' sebagai kampung 'Wisata Belajar'. Wisata diartikan sebagai tempat yang ramah dan indah sebagai tempat berwisata.

"Dan wisata yang dihadirkan, tidak hanya alam Ledokombo yang indah, namun juga sisi belajarnya. Bagaimana menjadi tempat belajar bagi semua warga, tidak memandang suku ras, dan agamanya. Saling menghormati dan menyayangi. Menghormari keberagaman," ujarnya.

Siapapun, lanjut Ciciek, bisa belajar di 'Tanoker'. Belajar dan bermain bersama anak dan keluarga mereka.

Ada Egrang dan Polo Lumpur yang bisa dijadikan ajang permainan. Ada aneka ilmu ketrampilan yang bisa dipelajari dan diterapkan. Produk dari kerajinan bisa dibeli.

'Tanoker' juga menyediakan tempat untuk belajar. Anak-anak Tanoker juga mendapatkan ilmu pengetahuan yang metode belajarnya berbeda dengan yang mereka dapatkan di sekolah.

"Kami memang bermimpi bagaiamana Ledokombo menjadi 'Kampung Wisata Belajar' yang glocal, global dan local," tegas Ciciek.

Untuk mewujudkan 'Kampung Wisata belajar' itu, dalam rangkaian Festival Egrang V ini 'Tanoker' mengadakan sejumlah acara yakni Training of Trainer (ToT) Mother School bertema 'Parenting for Peace' yang diikuti oleh 10 orang ibu dari 10 kecamatan di Jember. Pelatih dan pembicara ToT ini dari Austria. Juga ada seminar nasional kebudayaan bertema 'Menyuburkan Budaya Lokal Menguatkan Indonesia untuk Go Internasional' yang akan diisi oleh motivator pendidikan asal Surabaya Munif Chatib dan juga ada pembahas dari akademisi asal Australia dan Austia.

"Meskipun kami berada di Ledokombo, namun mempunyai teman dan berkawan dengan kawan-kawan dari negara lain. INilah yang kami sebut'glocal'," kata perempuan berdarah Ambon itu.

Dan puncak Festival Egrang adalah parade dan karnaval Egrang yang diikuti oleh 50 kelompok. yang berisi sekitar 1.000 partisipan. Mereka berasal dari sejumlah kecamatan di Jember, juga dari Kabupaten Bondowoso dan Yogyakarta.

Bagi pengunjung dari luar Jember yang hendak menikmati 'Kampung Wisata belajar' di Ledokombo juga tidak perlu khawatir untuk tempat menginap. Sebab kini sudah ada homestay yang dimiliki oleh warga setempat. Saat ini tersedia 28 unit homestay yang memiliki 70 kamar dan bisa menampung 200 orang.

http://surabaya.tribunnews.com/2014/08/22/kampung-wisata-belajar-dari-ledokombo

Tanoker

...mempertemukan manusia - manusia dari berbagai kebudayaan... untuk bersatu, berbagi dan saling menguatkan dalam suatu ruang hidup bernama Ledokombo

Read more