Diplomasi Egrang Tanoker

Monday, 24 February 2014 09:56
Rate this item
(0 votes)

Alam sekitar adalah sekolahku. Setiap orang adalah guruku. Itulah semboyan yang selalu didengungkan oleh komunitas belajar egrang tanoker dari Desa Ledokombo, Jember. Sungguh pengalaman luar biasa bagi kami, para guru yang tergabung dalam perkuliahan Guardian Angel Surabaya, ketika mengunjungi lokasi tersebut, Jumat (14/2).

Akhir-akhir ini,popularitas komunitas belajar egrang tanoker semakin mendunia. Bahkan, sejumlah mahasiswa dari beberapa negara (Jepang hingga Jerman) berkunjung untuk observasi dan studi banding.

Komunitas ini sejatinya masih terhitung muda, didirikan tahun 2009 oleh Farha Ciciek dan Suporaharjo untuk mewadahi anak-anak Desa Ledokombo yang berstatus yatim piatu sosial. Maklum, orangtua mereka mayoritas berprofesi sebagai TKI di negeri asing, sehingga anak-anak desa tersebut diasuh oleh tetangga atau kakek-nenek mereka. Di samping itu, Desa Ledokombo terlanjur dicap sebagai daerah tertinggal.

Dari sinilah cita-cita mulia Ciciek dan Supo timbul untuk membentuk komunitas belajar berbasis kearifan lokal permainan tradisional yang terancam punah, egrang. Nama tanoker sendiri diambil dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Filosofi bahwa suatu saat anak-anak pelosok desa tersebut akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang indah, mengepakkan sayapnya terbang jauh ke angkasa.

Apa yang spesial dari egrang tanoker? Egrang tersebut dimodifikasi sedemikian rupa, baik dari tampilan fisik maupun koreografi dalam memainkannya, sehingga menjadi sebuah kesenian yang luar biasa indah. Diiringidengan aneka tarian tradisional dengan lagu daerah hingga lagu barat. Semua dipadukan dengan koreografi dan perpaduan alat musik perkusi. Inilah yang membuat anak-anak percaya diri bahwa mereka mempunyai bakat terpendam, terutama di ranah kinestetik dan musikal, dan bila terus digali akan menghasilkan prestasi hebat!

Ajaibnya, dalam beberapa tahun, permainan egrang kini menjadi kegiatan ekstrakurikuler di beberapa sekolah di Kecamatan Ledokombo, baik sekolah negeri maupun swasta. Pemkot pun melirik komunitas ini sebagai potensi wisata yang bisa mendatangkan turis setiap tahunnya. Termasuk memanfaatkan bermacam suvenir yang berkaitan dengan egrang tanoker. Atas inisiatif Ciciek dan Supo, festival egrang tanoker tahunan pun rutin digelar dengan melibatkan banyak peserta. Virus egrang pun mulai mewabah di beberapa kota sekitar.

Rombongan dari Surabaya yang diketuai Munif Chatib setelah menginap di Ledokombo selama tiga hari, hanya bisa mengucap syukur kepada Tuhan, di negeri ini banyak sekali bibit-bibit unggul, anak-anak yang optimistis akan bermasa depan cerah, mereka mampu memunculkan potensi lokal, menuju prestasi dunia.

Oleh : Akhmad Kanzul Fikri, Guru di LPS Al-Aqobah, Jombang, This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.http://surabaya.tribunnews.com

Tanoker

...mempertemukan manusia - manusia dari berbagai kebudayaan... untuk bersatu, berbagi dan saling menguatkan dalam suatu ruang hidup bernama Ledokombo

Read more