Farha Ciciek dan Suporahardjo Membuat Egrang Memiliki Nilai Jual

Friday, 17 January 2014 09:53
Rate this item
(1 Vote)

Rubrik SOSOK KOMPAS, 8 Januari 2014, Oleh: Runik Sri Astuti

 

MELESTARIKAN egrang sebagai permainan tradisional yang sarat budaya dan nilai filosofi barangkali sudah banyak dilakukan orang. Namun, memanggungkan egrang di kancah sosial, apalagi secara ekonomi, bisa jadi baru dilakukan pasangan Farha Ciciek dan Suporahardjo.

Hari itu, ratusan pelajar sekolah dasar berpawai mengelilingi lapangan Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tak seperti pawai umumnya, mereka berjalan menggunakan egrang sehingga memiliki ketinggian di atas tinggi rata-rata tubuh orang dewasa.

 Egrang merupakan permainan dengan mengandalkan dua bilah bambu yang bagian bawahnya dipasang papan kecil untuk pijakan kaki. Ketinggian bambu yang mencapai lebih dari 1 meter dan pijakan yang hanya pas untuk satu kaki membuat para pemain harus lihai menjaga keseimbangan. Sedikit senggolan bisa membuat mereka tergelincir dan terjatuh.

Pawai pelajar itu menjadi pembuka acara pergelaran Festival Egrang IV tahun 2013. Tak kurang dari 50 peserta beregu atau sekitar 500 pelajar berpartisipasi. Mereka berasal dari pelbagai sekolah di Kabupaten Jember dan sekitarnya, bahkan juga dari Yogyakarta.

 Hampir semua peserta sepakat, bermain egrang tidak mudah. Apalagi dilakukan secara beregu, membentuk sebuah kesatuan pentas yang utuh dan menampilkan aneka tarian tradisional maupun modern.

”Di sini perlu dibangun kekompakan, kebersamaan, saling bantu, bahkan saling pengertian dan solidaritas tinggi di antara peserta. Itulah nilai filosofi egrang yang diharapkan bisa menumbuhkan karakter kuat bagi anak-anak bangsa di tengah gempuran budaya pragmatis dan individualis sekarang,” ujar Supo, panggilan Suporahardjo.

Supo dan istrinya, Farha Ciciek, adalah penggagas acara festival egrang yang belakangan menjadi agenda budaya tahunan di Jember, seperti halnya Jember Fashion Carnaval. Festival ini awalnya bersifat lokal, tetapi kemudian berkembang menjadi hajatan berskala nasional.

 

Di kaki Gunung Raung

Festival Egrang mengambil tempat di lapangan Desa Ledokombo, sekitar 45 kilometer dari pusat Kabupaten Jember. Lokasi tepatnya di kaki Gunung Raung yang kental dengan suasana pedesaan.

Ciciek bercerita, ide melestarikan permainan egrang muncul sekitar lima tahun silam. Ketika itu dia memutuskan pulang kembali ke kampung halaman Supo di Jember. Suatu hari suaminya bermain egrang dan anak-anaknya bertanya.

Mereka penasaran karena belum pernah melihat egrang sebelumnya. Ciciek merasa dirinya seolah diingatkan bahwa anaknya telah tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Sejak itulah Ciciek dan Supo bertekad melestarikan permainan tradisional egrang. Mereka kemudian membentuk komunitas yang diberi nama Tanoker (dari bahasa Madura yang berarti kepompong). Komunitas ini lahir pada 10 Desember 2009.

Melalui komunitas inilah Ciciek dan Supo mengembangkan egrang. Kemudian egrang pun menjadi permainan yang sehat, sportif, penuh tantangan, dan menumbuhkan rasa berbagi. Egrang menjadi media transformasi masyarakat dan simbolisasi menuju perubahan bagi 3.000 jiwa warga Ledokombo.

Selama ini Ledokombo menjadi kawasan marjinal. Selain lokasinya yang berada di perbukitan dan jauh dari pusat pemerintahan, ekonomi masyarakat setempat juga tidak berkembang. Mayoritas warga bekerja sebagai buruh tani dan pekerja serabutan.

”Bahkan, dalam dua dasawarsa terakhir semakin banyak penduduk yang bekerja sebagai TKI (tenaga kerja Indonesia) ke Timur Tengah, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong,” katanya.

Masalah sosial daerah ini pun tak kalah pelik. Kemiskinan telah menyebabkan banyak anak putus sekolah. Mereka menjadi penganggur sehingga rawan terlibat narkoba. Bagi anak perempuan, orangtua cenderung menikahkan mereka pada usia dini. Ini, antara lain, mengakibatkan kecenderungan munculnya kekerasan dalam rumah tangga.

 

Interaksi sosial

Melalui jalan egrang, anak-anak membangun interaksi sosial. Mengasah kembali semangat kebersamaan supaya mereka tak lagi menjadi individu-individu yang hanya bisa duduk di depan televisi atau asyik bermain game di komputer warnet.

Di dalam komunitas Tanoker, anak-anak belajar sambil bermain. Di sela-sela bermain egrang, Ciciek mengajak mereka belajar matematika, membaca, menulis, bermain musik, bahasa Inggris, dan menari.

Melalui komunitas ini pula anak-anak diperkenalkan dengan Indonesia yang multikultural. Indonesia yang kaya suku, budaya, adat istiadat, dan bahasa. Bahkan, untuk memupuk semangat keindonesiaan anak-anak, komunitas Tanoker selalu mengambil tema festival yang berbeda. Contohnya, tahun 2013 mereka mengambil tema Papua.

Sukses melestarikan permainan egrang dan memupuk nilai-nilai filosofi di dalamnya, Ciciek pun mulai berpikir untuk melangkah lebih jauh. Dia melihat potensi yang bisa digali dari festival egrang.

Dia melihat ada potensi ekonomi di sini. Potensi ini penting dikembangkan untuk memutus rantai kemiskinan, membangun kemandirian masyarakat, dan membuka masa depan generasi muda.

Festival yang digelar setiap tahun itu mengundang pengunjung dari luar daerah Jember. Bahkan, lambat laun sebagian pengunjung memilih tinggal beberapa hari untuk menikmati suasana pedesaan.

Kedatangan para tamu inilah yang kemudian menjadi berkah bagi penduduk lokal. Warga dengan beragam kemampuannya membuka usaha baru, seperti membuka warung makan, toko kelontong, dan toko pakaian.

Ketiadaan hotel bahkan telah membuka usaha penyewaan ruang  sebagai penginapan. Warga yang semula hanya bisa bertani belakangan juga menjadi pedagang dan pelayan tamu.

Terbukanya peluang pasar itu mendorong anak-anak yang tergabung dalam komunitas Tanoker antusias membuat beragam suvenir, seperti dompet kecil dan tempat kacamata berbahan kain perca atau sisa kain berharga Rp 5.000-Rp 30.000.

Bapak-bapak yang semula membuat egrang untuk mainan anaknya lalu membuat egrang untuk dijual seharga Rp 30.000-Rp 50.000. Bagi warga Ledokombo, egrang setidaknya telah menambah pendapatan mereka.

 

Farha Abdul Kadir Assegaf

Nama panggilan: Farha Ciciek 

Lahir: Ambon, 26 Juni 1963

Pendidikan:

- Fakultas Ushuluddin  IAIN Sunan Kalijaga

- Pascasarjana Jurusan Sosiologi UGM 

Pekerjaan antara lain: 

- Pendiri Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak

- Menulis buku "Jangan Ada Lagi Kekerasan dalam Rumah Tangga" (2005)

- Aktivis, peneliti, dan konsultan  bidang pendidikan, jender,perempuan, dan agama

 

Suporahardjo 

Lahir: Jember, Jawa Timur, 9 Juli 1963

Pendidikan:

- S-1 Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan UGM 

-  S-2 Manajemen Pembangunan Sosial FISIPOL UI 

-  S-3 Sosiologi FISIPOL UI 

Pekerjaan: aktivis, peneliti, konsultan, dan pemerhati di bidang manajemen konflik dalam pengelolaan sumber daya alam

 

Tanoker

...mempertemukan manusia - manusia dari berbagai kebudayaan... untuk bersatu, berbagi dan saling menguatkan dalam suatu ruang hidup bernama Ledokombo

Read more